Senin, 08 November 2010

SEJARAH INTERNAZIONALE FC

PART 1

Ada baiknya, sebagai tifosi sejati La Beneamata; hendaknya kita tahu sejarah awal dari Tim Hitam-Biru kesayangan kita ini. Baik kita mulai!!!

SEJARAH AWAL



Internazionale Milano Football Club terlahir dengan sebuah pembangkangan. Dikatakan ironis, memang ironis; namun, itulah yang terjadi di masa lalu. Seajarah Inter berawal dari Milan Cricket & Football Club yang didirikan pada tanggal 16 Desember 1899 oleh tiga orang berkebangsaan Inggris, yakni Herbert Kilpin, Allison dan Davies. Ketiga serangkai tersebut dibantu oleh tiga rekannya yang lain, yakni Alfred Edwards, Barnett dan Nathan.

Para pendiri dan anggota Milan Cricket & Football Club awalnya mungkin tidak pernah mengira dan menyangka-nyangka kalau klub olahraga itu bakal pecah. Alasannya pun terbilang sepele. Sebagian anggota yang dipimpin oleh Giovanni Paramithiotti, memprotes kebijakan klub dalam pembatasan anggota. Ketika itu, Milan tidak mengizinkan pemain asing memperkuat timnya dan hanya menerima pemain Italia dan Inggris, tidak dari negara lain.

Beberapa yang tidak setuju lalu meninggalkan Milan Cricket & Football Club dan sepakat mendirikan klub tandingan. Pada Senin, 9 Maret 1908, bertepatan di Restoran Dell 'Orologio, berdirilah Internazionale Milano Football Club yang kelak dikenal dengan nama Inter Milan.

Meski cara yang digunakan adalah pembangkangan pada awalnya, di kemudian hari ada satu hal yang patut diacungi jempol dari Internazionale Milano Football Club yakni tujuannya yang berlaku untuk 'umum'. Dengan kata lain, terbuka untuk siapa saja, tanpa membedakan bangsa dan negara, dan bersifat global. Intinya, dari awal, klub ini telah berani mengesampingkan perbedaan rasial dan diskriminasi sosial.

Begitu Internazionale mendeklarasikan sifanya yang terbuka untuk umum, sejumlah pemain asing mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka berasal dari Swiss. Bahkan, kapten pertama klub ini pun orang berkebangsaan Swiss, Ernst Marktl.

Untuk membedakan identitas diri secara jelas dari saudara tuanya, Milan; mereka menugaskan George Muggiani, seorang desain lokal, untuk merancang sebuah kostum. Sesuai kesepakatan, Muggiani lantas memakai warna dasar emas dipadukan garis hitam-biru secara vertikal.

Kostum sudah selesai. Tiba saatnya membentuk organisasi klub. Sebagai penghormatan atas ide 'gilanya' yang membentuk klub pelarian, Giovanni Paramithiotti, diangkat sebagai presiden klub pertama di Internazionale Milano Football Club.

Berkat jasa para pemain asingnya, Internazionale tak harus menunggu lama mendapatkan gelar pertamanya. Pada musim 1909/10, Internazionale memperoleh trofi pertamanya. Adalah Virgilio Fosatti I, pelatih yang berperan besar memadukan kolaborasi Italia-Swiss di Internazionale.



BERGANTI NAMA

Internazionale berkembang begitu pesat dari awal terbentuknya. Namun, keterpurukan juga sangat cepat terjadi. Setelah memperoleh trofi pertamanya, Internazionale haru menunggu sepuluh tahun kemudian untuk bisa kembali mendapatkan trofi keduanya, yakni pada musim 1919/20. Dimana ketika itu Internazionale dipimpin oleh presiden Giorgio Hulls dan allenatore Nino Rosegotti. Uniknya, yang menjadi kapten tim adalah anak dari mantan pelatih Internazionale yang pertama kali memperoleh trofi juara, yakni Virgilio Fosatti II.

Cerita berlanjut dan berkaitan dengan catatan sejarah besar yang dibincangkan di Eropa dan negara-negara lainnya. Di zaman fasis, Italia terkenal dengan kediktatoran Benito Mussolini, yang bercita-cita menjadikan Italia sebagai negara super power. Imbasnya, perubahan kebijakan di negara Spaghetti tersebut. Segala hal diatur agar sesuai dengan paham yang dia terapkan. Itulah awal dimana Internazionale 'dipaksa' melebur dengan klub lokal Unione Sportivo Milanese pada musim 1928/29. Sehingga membuat nama Internazionale berubah menjadi Ambrosiana-Inter.

Kala itu, Internazionale dianggap Mussolini tak sesuai dengan fahamnya. Ketika itu, Internazionale memang banyak diperkuat oleh pemain asing dari luar Italia. Sedangkan sebagai negara penganut faham fasis, Italia lebih mengunggulkan bangsanya sendiri atau anti asing.

Meski harus merubah namanya, Inter tetaplah Inter. Ini terlihat dari tiga gelar yang diperoleh ketika memakai nama Ambrosiana-Inter. Bahkan, ketika meraih scudetto ketiganya di musim 1929/30, dimana faham fasis masih berlaku, Inter dilatih oleh seorang allenatore asing bernama Arpad Veisz.

Dalam proses merebut gelar juara, kontribusi pemuda bernama Giuseppe Meazza -yang kelak namanya dijadikan sebagai nama stadion Inter Milan- sangat besar. Kesuksesan klub di era 1930-an tak lepas dari pemain yang kelak akan menjadi legenda sepanjang masa bagi Inter dan Italia.

Usai Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1946, Ambrosiana-Inter kembali mengganti nama menjadi Internazionale seperti nama awalnya berdiri. Orang yang berperan besar dalam hal ini adalah Carlo Masseroni, presiden klub sejak tahun 1942.

Kostum putih dengan tanda salib merah didada -seperti kostum yang dipakai Inter ketika merayakan 100 tahunnya di musim 2008/09- yang dipakai di era fasis pun ditanggalkan. Dan Inter memakai kostum kebesarannya seperti awal berdiri, yakni hitam-biru. Selama dua belas tahun Masseroni menjadi nahkoda kapal Internazionale, dua scudetti berhasil digenggam. Hebatnya, itu dilakukan dua musim berturut-turut; 1952/53 dan 1953/54 dengan pelatih Alfredo Foni.

LA GRANDE INTER



Saat kapal induk Internazionale dipegang oleh Angelo Moratti -ayahanda Massimo Moratti, presiden Inter saat ini-, dimulailah era keemasan yang sampai hari ini masih sering dibincangkan para tifosi. Selama Angelo berkuasa, total tujuh gelar diraih dan gelar Eropa pun dibawanya ke Inter.

Piala Champions -sekarang dikenal dengan nama League Champions- musim 1963/64 dan 1964/65 serta Piala Interkontinental 1964 dan 1965; merupakan bukti betapa Inter saat itu begitu perkasa. Keperkasaan mereka semakin menjadi-jadi pada musim 1964/65. Inter meraih tiga gelar sekaligus, yakni scudetto, Piala Champions dan Piala Interkoninental.

Di era tersebut Inter benar-benar ditakuti di Italia dan Eropa. Dengan formasi 4-2-4, Inter hebat dalam pertahanan dan peyerangan. Bahkan, Inter sempat dikenal dengan sebutan The Winning Team, yang terdiri dari Sarti (kiper); Burgnich, Facchetti, Bedin, Guarneri (bek); Picchi, Jair (gelandang); Mazzola, Milani, Suarez, Corso (striker).



Angelo Moratti bukan satu-satunya orang yang beperan besar dalam masa keemasan Inter. Adalah Helenio Herrera yang menjadi pelatih yang merupakan sutradara sesungguhnya kesuksesan Inter.

Allenatore asal Argentina ini mulai mengarsiteki Inter pada musim 1960/61. Ditangan dingin Herrera, Inter memperagakan sistem pertahanan gerendel atau yang dikela dengan istilah catenaccio. Dialah pelatih yang mempopulerkan taktik dan strategi tersebut. Kelak, dikemudian hari, gaya bertahan ala catenaccio menjadi ciri khas klub-klub dan timnas Italia.

Sebuah klub kadang tak lepas dari masa suram. Demikian juga Inter. Klub yang pernah berjaya di era 1960-an tersebut merasakan kesuraman dengan empat musim paceklik gelar (musim 1966-1970), tak ada satu gelar pun diraih Inter pada masa itu.

Masa suram tak berlangsung lama. Presiden baru, Ivanoe Fraizzoli, berhasil membawa Inter mengulangi masa kejayaannya. Ditandai dengan kemunculan striker kurus, Alessandro Altobelli, Inter mulai merasakan lagi gelar juara.

Sukses Inter tak lepas dari dua pelatih, yakni Gianni Invernizzi dan Eugenio Bersellini. Merekalah yang menyulap Inter kembali menjadi klub yang ditakuti. Invernizzi yang menangani Inter selama dua musim (1970-1972), berhasil menghadirkan satu scudetto pada musim 1970/71. Sementara Berselinni lebih hebat lagi. Raihan dua scudetti plus dua Piala Italia merupakan kado manisnya selama lima musim bekerja untuk Inter.

Pada era kepelatihan Giovanni Trapatoni, Inter memasuki akhir kejayaannya di Serie A. Pelatih top yang dikontrak dari Juventus ini berhasil membawa Inter merengkuh scudetto ke-13 kalinya pada musim 1988/89. Mr. Trap sendiri menangani Inter sejak musim 1986/87.

Inter benar-benar digdaya saat dipegang Mr. Trap. Duet Jerman, Andreas Brehme dan Lothar Matthaeus, merupakan pemain penting dibalik kesuksesan Inter, disamping nama pelatihnya itu sendiri. Kebintangan mereka disokong oleh bintang-bintang lokal, seperti Walter Zenga, Giuseppe Bergomi dan Riccardo Ferri.



PART 2




ERA SURAM MORATTI


Setelah Ernesto Pellegrini lengser dari kursi presiden, Massimo Moratti -anak dari Angelo Moratti- naik tahta meduduki Inter pada tanggal 18 Februari 1995. Moratti ingin mengulang kembali masa keemasan Inter di Italia dan Eropa. Pada era Moratti ini, Inter terlihat sangat labil dalam kompetisi walau dengan kucuran dana yang besar, tidak membuat nama Inter besar di Italia. Satu-satunya gelar bergengsi yang didapat Inter adalah Piala UEFA di musim 1997/98.

Kesalahan terbesar Massimo Moratti adalah mendapatkan gelar dengan instan. Ini terlihat dari pembelian pemain yang mubazir, padahal pemain tersebut sangat berpotensial, seperti Roberto Carlos (yang sukses di Real madrid, dan hanya satu musim bermain di Inter), Dennis Bergkamp (yang sukses di Arsenal, dan hanya dua musim di Inter, dan tidak cukup tajam sebagai striker), Nwankwo Kanu (yang sukses di Arsenal, bermasalah di Inter karena gagal jantung), Paul Ince dan Youri Djorkaeff (walau berhasil mempersembahan Piala UEFA, dimata tifosi Inter, scudetto adalah segala-galanya), Ronaldo Luiz (yang sukses di Spanyol bersama Barcelona dan Real madrid, di Inter Ronaldo memang berhasil menjadi top scorer di musim pertamanya bersama Inter, namun cidera berkepajangan membuatnya hengkang ke Real Madrid), dan Hakan Sukur dan Robbie Keane (yang hebat di klubnya terdahulu, tidak bisa apa-apa di Inter Milan, hingga membuatnya terdepak dari Inter), Van Der Meyde (yang sukses di Ajax, tapi melempem di Inter) dan Obafemi Martins (yang kecewa dengan kebijakan klub).

Bukan hanya pemain, Moratti juga gemar memecat pelatih -bahkan ditengah kompetisi sekalipun- yang tidak sesuai dengan hasratnya yang ingin memperoleh scudetto dengan instan. Tercatat sepuluh pelatih pada era Moratti yang telah merasakan pemecatan, mereka adalah Ottavio Bianchi, Luis Suarez, Roy Hodgson, Luigi Simoni, Mircea Lucescu, Luciano Castellini, Marcello Lippi, Marco Tardelli, Hector Cuper dan Alberto Zaccheroni.

Pada masa kepemimpinannya, Moratti hanya terkenal sebagai pengobral uang semata. Membelajakan pemain bintang dan pelatih-pelatih top dunia tanpa gelar scudetto. Tercatat, total 73 pemain dibawa Moratti ke markas Inter pada musim 1995 sampai 2004 lalu. Dana yang dikeluarkan tentu sangat besar. Menurut CNN, selama kepemimpinannya di Inter, Moratti mengeluarkan uang sekitar 400 juta dolar AS (sekitar 3,6 Triliun rupiah) dan belum termasuk gaji pelatih pada era kepemimpinannya. Ironisnya, tak satupun gelar scudetto didapat Inter.

Selain masalah prestasi instan, Inter pun terkenal dengan klub yang rapuh mental para pemainnya. Ini bisa dilihat dari scudetto terakhir yang didapat Inter di musim 1988/89. Inter sebenarnya tiga kali hampir menjadi juara Serie A. Yang pertama di musim 1992/93 ketika Inter dilatih Osvaldo Bagnoli. Kala itu I Nerazzuri menjadii runner-up, hanya kalah dari saudara tuanya, Milan. Saat itu, Inter gagal karena lantaran ceroboh. Penampilan para pemain Inter labil. Inter kalah 0-3 melawan Ancona yang notabene lawan yang mudah. Itu memang bukan terjadi di Era Moratti, namun disitulah awal rapuhnya mental juara Inter yang melekat mengenerasi di era Moratti.

Pada musim 1997/98, di era Moratti, Inter bersaing sangat ketat dengan Juventus. Hingga pekan ke-30 -ketika itu, Serie A masih 18 tim-, Inter cuma ketinggalan satu angka. Pada pekan ke-31, kedua tim bertemu. Kontroversi terjadi. Wasit Piero Ceccarini dianggap memihak Juventus. Dia tidak memberi Inter penalti ketika Ronaldo dijatuhkan oleh bek Juventus, Mark Iuliano. Inter kecewa. Sialnya, Alessandro Del Piero malah mencetak gol sehingga Nerazzuri harus takluk 0-1. Dan, Inter tertinggal empat poin di klasemen. Kerapuhan mental Inter terlihat di pekan-pekan selanjutnya; di pekan 32 bermain imbang dengan Piacenza dan di pekan 33 kalah ditangan Bari 1-2. Scudetto pun digenggaman Juventus.

De ja vu itu pun terjadi lagi di musim 2001/02. Jika menang di pekan terakhir, Inter akan mendapatkan scudetto yang telah diidam-idamkannya. Lazio memang bukan lawan yang ringan. Namun, Lazio mempersilahkan Inter untuk menang daripada Juventus yang mendapatkan scudetto. Celakanya, Inter malah bermain gugup. Terlebih mendengar Juventus telah unggul di pertandingan lainnya. Inter menjadi panik. Keunggulan atas Lazio tidak bisa dipertahankan. I Nerazzuri pun menyerah 4-2. Dan scudetto pun melayang lagi...

Kegagalan Moratti membuat tifosi Inter berang. Mereka memaksa Massimo Moratti untuk mundur dari kursi presiden pada tanggal 30 Januari 2004 digantikan oleh wakilnya, Giacinto Facchetti. Dan Era New La Grande Inter pun dimulai.


PART 3

ERA NEW LA GRANDE INTER



Dimulai dari naiknya Giacinto Facchetti sebagai presiden baru Inter sebagai penggati Massimo Moratti yang dianggap gagal. Giacinto Facchetti memang sosok besar ketika masih menjadi pemain. Dia legenda di Inter dan timnas Italia. Legenda sepakbola dunia, Pele, menyebutnya sebagai salah satu dari 125 pemain paling termasyur di dunia.



Akan tetapi, bagi Facchetti, kursi presiden Inter luar biasa panasnya. Misinya berat : mengembalikan kejayaan Inter di Italia dan Eropa. Namun, keraguan mulai menggerogoti Inter dan beberapa orang menganggap Faccheti hanya boneka Moratti. Dengan kata lain, presiden memang Facchetti, tapi yang menentukan segalanya adalah Moratti. Facchetti pun harus menepis bayang-bayang Moratti dan berbagai pandangan sinis tentangnya.

Dimulai dengan mengangkat Roberto Mancini sebagai allenatore Inter, Faccheti mulai bekerja sebagai presiden klub. Scudetto memang belum bisa diperoleh Inter di Serie A, namun dua musim berturut mendapatkan Coppa Italia ditangan Mancini di musim 2004/05 dan 2005/06 dan satu Super Coppa Italia di tahun 2005.

Adalah kasus calciopoli yang menimpa Juventus dan beberapa klub yang terlibatlah yang membuat Inter meraih scudetto. Inter berhasil meraih gelar scudetto mereka yang ketigabelas kali pada tahun 1989 dan membutuhkan waktu yg sangat panjang hingga 17 tahun hingga mereka dapat memenanginya lagi pada tahun 2006. Beberapa media menyebutnya "Scudetto of Honesty" (juara dari kejujuran).

Kasus ini membuat Juventus -aktor utama pengaturan skor- dicopot dua gelarnya sekaligus, yakni pada musim 2004/05 (bahkan pada musim ini, tak ada sang juara) dan musim 2005/06 (Inter yang berada diposisi runner-up, dinyatakan mendapatkan scudetto). Tak ada perayaan yang besar yang di lakukan I Nerazzurri ketika mendapat scudetto ketigabelasnya.

Pada musim selanjutnya, 2006/07, langkah Inter memperoleh scudetto pun terbilang mudah; tak ada lagi Juventus yang dipaksa terdepak ke Serie B, beberpa klub besar seperti Milan, Roma, Fiorentina dan Lazio mengalami pengurangan nilai yang sangat signifikan. Inter pun dengan mudah memperoleh scudetto keempatbelasnya dengan membuat rekor dengan 17 kemenangan beruntun di kompetisi lokal mengalahkan rekor Bayern Muenchen dalam kemenangan beruntunnya pada satu musim. Namun, Inter mendapatkan berita duka, dimana sang presiden, Giacinto Facchetti meninggal dunia. Sebagai penghormatannya sebagai pemain legenda Inter dan timnas Italia, nomor punggung 3 dipensiunkan untuk mendedikasikan segenap di dunia sepakbola. Untuk kursi presiden, Massimo Moratti kembali menduduki kursi tersebut tanpa kritik yang keras dari para tifosi La Beneamata.

Di musim 2007/08, Juventus telah kembali ke Serie A, beberapa klub besar pun tidak mengalami perngurangan nilai; Inter harus membuktikan kedigdayaannya meraih scudetto musim ini dengan pengakuan yang 'layak'. Namun, pandangan sinis tetap saja menghantui Inter. Banyak pihak yang menyatakan, Inter masih mendominasi karena kekuatan Juventus, Milan, dan Roma tidak sebanding dengan Inter. Pernyataan itu tidak salah. Inter memang meraih scudetto diakhir musim, walau dengan perjuangan keras hingga akhir pekan Serie A. Beberapa konflik internal melanda Inter diparuh kedua musim 2007/08, dimana beberapa pemain tidak menyukai kebijakan Roberto Mancini, cedera pemain pun silih berganti, dan yang paling parah adalah ketidaksepahaman Moratti -yang kembali menjadi presiden, ketika Facchetti meninggal dunia musim lalu- dengan Roberto Mancini. Ujung-ujungnya, Roberto Mancini pun harus menyerahkan jabatannya sebagai allenatore Inter di akhir musim, walau berhasil membawa Inter memperoleh scudetto selama tiga musim berturut-turut yang membuatnya disamakan dengan allenatore tersukses Inter, Helenio Herrera.

Diangkatnya Jose Mourinho sebagai nahkoda baru I Nerazzurri menandakan musim 2008/09 menggantikan Roberto Mancini. Asa tinggi pun membungbung dibenak tifosi dan pemain Inter Milan. The Special One memang menjadi daya tarik tersendiri di Serie A, dimana ini musim pertamanya melatih di Italia. Dari awal pre-season sampai akhir kompetisi, Jose Mourinho membuat beberapa pelatih Serie A naik darah dengan komentar-komentarnya. Walau di awal kompetisi, Inter tidak menunjukkan permainan yang menghibur dan terasa membosankan; namun, Inter membuat rekor baru lagi, yakni dari pekan ke-10 sampai akhir musim, I Nerazzurri selalu memimpin capolista dan gelar juara ke tujuhbelas kalinya pun berada digenggaman, bahkan tanpa harus mehabiskan sisa tiga pertandingan lagi. Inter pun berpesta. Tifosi pun bernyanyi. Scudetto Inter semakin lengkap dengan menjadikan Ibrahimovic semakan cappocanonieri Inter dengan mengoleksi 25 gol. Musim 2008/09 pun menjadi musim terakhir Luis Figo sebagai pemain sepakbola profesional.



Di musim mendatang, asa tinggi pun masih dikobarkan oleh para tifosi Inter (termasuk aku), yakni scudetto lagi! Dua pemain kunci Genoa; Thiago Motta dan Diego Milito pun didatangkan sebagai pelengkap lini tengah dan lini depan Inter yang terlalu mengandalkan Ibrahimovic. Tak sabar rasanya menunggu hingga musim depan...

Salam untuk semua tifosi La Beneamata...


sumber/repost from: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4561438

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa di komen yaa :)